Tugas 2 Bahasa Indonesia

Tugas Kalimat Efektif  dan Tidak Efektif

1. Bagi semua mahasiswa yang hadir dalam pertemuan ini harus memberikan pendapatnya  masing-masing. ( tidak efektif )
Seharusnya:  Semua mahasiswa yang hadir pada pertemuan ini harus memberikan pendapatnya  masing-masing.
2. Kampus kami yang berada di Jalan Margonda Raya. ( tidak efektif )
Seharusnya : Kampus kami berada di Jalan Margonda Raya.
3. Karena ia tidak diundang , dia tidak hadir pada acara itu. ( tidak efektif )
Seharusnya : Karena tidak diundang, dia tidak hadir pada acara itu.
4. Hadirin serentak berdiri ketika mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya. ( tidak  efektif )
Seharusnya : hadirin serentak berdiri ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya.
5. Dia datang dengan hanya membawa alat tulisnya saja. ( tidak efektif )
Seharusnya : Dia datang hanya membawa alat tulisnya saja.
6. Sejak dari kemarin dia hanya diam saja. ( tidak efektif )
Seharusnya : Sejak kemarin dia hanya diam saja.
7. Kabar itu sudah saya dengar semenjak saat kejadian itu berlangsung. ( tidak efektif )
Seharusnya : Kabar itu sudah saya dengar sejak kejadian itu berlangsung.
8. Saran yang di kemukakannya kami akan pertimbangkan ( tidak efektif )
Seharusnya : Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
9. Mereka membicarakan dari pada kenaikan harga BBM. ( tidak efektif )
Seharusnya : Mereka membicarakan kenaikan harga BBM.
10. Dia sudah di terima kerja di perusahaan bonavit itu. ( tidak efektif ) Seharusnya : Dia sudah diterima bekerja di perusahaan bonavit itu.

Tugas Kalimat Aktif dan Pasif

1. Kalimat Aktif
Kalimat Aktif adalah kalimat di mana subyeknya melakukan suatu perbuatan atau aktifitas. Kalimat aktif biasanya diawali oleh awalan me- atau ber- dan di bedakan menjadi dua macam, yaitu:

a. Kalimat aktif transitif adalah kalimat yang memiliki obyek penderita.
Contoh:
– Ayah membelikan adik sepeda baru
– Kantin ini menyediakan berbagai macam menu makanan yang harganya terjangkau oleh      kalangan   mahasiswa
– Saya bertemu dengan Maya kemarin malam

b. Kalimat aktif intransitif adalah kalimat yang tidak memiliki obyek penderita.
Contoh:
– Wajahnya memerah
– Dia sudah datang
– Anak itu sangat rajin

2. Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subyeknya dikenai suatu perbuatan atau aktifitas.    Kalimat pasif biasanya diawali oleh awalan ter- atau di-.
Contoh:
– Bola itu dimainkan oleh anak-anak dilapangan
– Mainan adik tercebur ke sungai
– Bakso dimakan Budi

Tugas Pengertian Kerangka Karangan

1. Jelaskan pengertian kerangka karangan (outline) ?

2. Sebutkan dan jelaskan manfaat kerangka karangan ?

3. Langkah-langkah dalam menyusun kerangka karangan ?

4. Jelaskan manfaat susunan kerangka karangan ?

JAWABAN

1.    Kerangka karangan merupakan rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan dibuat dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur dan teratur.

2.
1. Menjamin penulisan karangan yang bersifat konseptual, menyeluruh dan terarah.
2. Untuk menyusun karangan secara teratur. Kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
3. Menghindari penggarapan topik dua kali atau lebih. Ada kemungkinan suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai kebutuhan tiap bagian dari karangan itu. Namun penggarapan suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu, karena hal itu hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan; misalnya, bila penulis tidak sadar betul maka pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu berbeda dengan yang diutarakan pada bagian kemudian, atau bahkan bertentangan satu sama lain. Hal yang demikian ini tidak dapat diterima. Di pihak lain menggarap suatu topik lebih dari satu kali hanya membuang waktu, tenaga, dan materi. Kalau memang tidak dapat dihindari maka penulis harus menetapkan pada bagian mana topik tadi akan diuraikan, sedangkan di bagian lain cukup dengan menunjuk kepada bagian tadi.
4. Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Setiap tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda kepentingannya terhadap klimaks utama tadi. Tiap bagian juga mempunyai klimaks tersendiri dalam bagiannya. Supaya pembaca dapat terpikat secara terus menerus menuju kepada klimaks utama, maka susunan bagian-bagian harus diatur pula sekian macam sehingga tercapai klimaks yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.
5. Memudahkan penulis mencari materi pembantu. Dengan mempergunakan rincian-rincian dalam kerangka karangan penulis akan dengan mudah mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya. Atau data dan fakta yang telah dikumpulkan itu akan dipergunakan di bagian mana dalam karangannya itu.

3.
1. Langkah pertama adalah merumuskan tema yang jelas berdasarkan suatu topik dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi. Tema yang dirumuskan untuk kepentingan suatu kerangka karangan haruslah berbentuk tesis atau pengungkaan maksud.
2. Langkah kedua adalah mengadakan inventarisasi atau mengumpulkan topik-topik bawahan yang dianggap merupakan rincian dari tesis atau pengungkapan maksud tadi. Dalam hal ini penulis boleh mencatat sebanyak-banyaknya topik-topik yang terlintas dalam pikirannya, dengan tidak perlu langsung mengadakan evaluasi terhadap topik-topik tadi.
3. Langkah ketiga adalah mengadakan evaluasi semua topik bawahan yang telah tercatat pada langkah kedua di atas. Evaluasi tersebut dapat dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut:
a. apakah semua topik yang tercatat mempunyai relevansi atau pertalian langsung dengan tesis atau pengungkapan maksud. Bila ternyata sama sekali tidak ada hubungan maka topik tersebut dicoret dari daftar di atas
b. Semua topik yang masih dipertahankan kemudian dievaluasi lebh lanjut. Bila ada dua topik atau lebih yang hampir sama, maka harus dibuat perumusan baru yang mencakup semua topik tadi.
c. Evaluasi lebih lanjut ditujukan kepada persoalan, apakah semua topik sama derajatnya, atau ada topik yang sebenarnya merupakan bawahan atau rincian dari topik lain. Bila ada masukkanlah topik bawahan itu ke dalam topik yang dianggap lebih tinggi kedudukannya.
d. Ada kemungkinan bahwa ada dua topik atau lebih yang kedudukannya sederajat, tapi lebih rendah dari topik yang lain. Bila terdapat hal yang demikian, maka usahakanlah untuk mencari satu topik yang lebih tinggi yang akan membawahi topik-topik tadi.
4. Mendapatkan sebuah kerangka karangan yang sangat rinci maka langkah kedua dan ketiga dikerjakan berulang-ulang untuk menyusun topik-topik yang lebih rendah tingkatannya.
5. Sesudah semuanya siap masih harus dilakukan langkah yang terakhir, yaitu menentukan sebuah pola susunan yang paling sesuai untuk mengurutkan semua rincian dari tesis atau pengungkapan maksud sebagai yang telah diperoleh dengan mempergunakan semua langkah di atas. Dengan pola susunan tersebut semua rincian akan disusun kembali sehingga akan diperoleh sebuah kerangka karangan yang baik.
4. Memudahkan penulis dalam membuat sebuah karangan karena jika telah dibuat susunan kerangka karangannya akan lebih mudah dalam menulis karangan.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s