WISATA RELIGIUS KE MASJID RAYA BAITURRAHMAN

Masjid Raya Baiturrahman merupakan symbol religious, keberanian, dan nasionalisme rakyat Nanggroe Aceh Darussalam. Ada dua versi pendirian Masjid Raya. Ada yang menyebut didirikan oleh Sultan Allaudin Johan Mahmud Syah pada abad ke-13. Namun, versi lain menyebutkan masjid itu didirikan pada abad ke-17 pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Berdasarkan catatan sejarah, nama Baiturrahman diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu, masjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam wilayah kerajaan Aceh. Pada masa kesultanan, gaya arsitektur Baiturrahman mirip masjid-masjid tua di Pulau Jawa. Bangunan kayu dengan atap segi empat dan bertingkat.

Pada masa itu, masjid itu merupakan pusat pendidikan ilmu agama di nusantara. Banyak pelajar di nusantara, bahkan dari Arab, Turki, India, dan Persia yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu.

Masjid ini merupakan saksi bisu sejarah Aceh. Masjid ini merupakan pertahanan rakyat Aceh ketika berperang dengan Belanda (1873-1904). Pada saat terjadi perang Aceh dan masjid itu dibakar habis oleh tentara Belanda.

Dalam pertempuran itu perwira tinggi Belanda bernama Kohler tewas. Untuk mengenang peristiwa itu dibangun prasasti Kohler pada halaman masjid. Letak prasasti itu berada di bawah pohon Geulempang, yang tumbuh dekat salah satu gerbang masjid.

Peletakan batu pertama pembangunan kembali masjid dilakukan pada tahun 1879 oleh Tengku Malikul Adil disaksikan oleh Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat itu, G J Van Der Heijden.

Pembangunan masjid ini dirancang arsitek Belanda keturunan Italia, De Brun. Bahan bangunan masjid sebagian didatangkan dari Penang, Malaysia, batu marmer dari Belanda, batu pualam untuk tangga dan lantai dari China, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Birma dan tiang-tiang masjid dari Surabaya.

Pembangunan kembali masjid dengan satu kubah,setelah dua tahun kemudian. Pada masa residen Y Jongejans berkuasa di Aceh masjid ini kembali diperluas. Hingga saat ini Masjid Raya telah mengalami lima kali renovasi dan perluasan (1879-1993). Peristiwa sejarah terakhir di masjid ini adalah tsunami pada 24 Desember 2004.

Ketinggian dan derasnya air ketika itu hingga 2 meter yang hamper menggenangi .uangan dan Masjid Raya. Masjid ini menjadi saksi sejarah bagi warga yang selamat. Mereka berlindung di masjid itu. Setelah air surut, di dalam masjid dijadikan tempat meletakkan ribuan jenazah korban tsunami.

Sumber: Media Indonesia, tanggal 1 Juni 2009

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s